Tempat Wisata Keunikan Sejarah Rumah Tabiat Tradisional Loka Samawa Sumbawa Nusa Tenggara Barat

Keunikan Sejarah Rumah Adat Tradisional Loka Samawa Sumbawa Nusa Tenggara Barat Tempat Wisata Keunikan Sejarah Rumah Adat Tradisional Loka Samawa Sumbawa Nusa Tenggara Barat
Keunikan Sejarah Rumah Adat Tradisional Loka Samawa Sumbawa Nusa Tenggara Barat Keunikan Sejarah Rumah Adat Tradisional Loka Samawa Sumbawa Nusa Tenggara Barat Tempat Wisata Keunikan Sejarah Rumah Adat Tradisional Loka Samawa Sumbawa Nusa Tenggara Barat

Nusa Tenggara Barat merupakan provinsi di Indonesia yang berada di sebelah barat Kepulauan Nusa Tenggara.

Di sebelah utara, provinsi ini berbatasan dengan Laut Flores, belahan barat berbatasan dengan provinsi Bali, belahan timur berbatasan dengan provinsi Nusa Tenggara Timur, dan belahan selatan berbatasan dengan Samudra Hindia.

Penduduk Nusa Tenggara Barat terdiri dari suku Sasak, yaitu suku orisinil yang berasal dari Pulau Lombok, dan suku Bima serta suku Sumbawa yang berada di pulau Sumbawa. Masing-masing pulau mempunyai rumah adatnya sendiri.

Seperti pulau Sumbawa mempunyai rumah adab berjulukan Dalam Loka Samawa dan Pulau Lombok mempunyai rumah adab suku Sasak yang biasa disebut Bale.

Sejarah Rumah Adat Tradisional Loka Samawa Sumbawa Nusa Tenggara Barat

Di nusa tenggara barat terdapat suku Sumbawa yang mempunyai rumah adab berjulukan dalam loka samawa, rumah adab ini didirikan oleh  pemerintahan Sultan Muhammad Jalaluddin Syah III di Pulau Sumbawa, tepatnya di  kota Sumbawa Besar.rumah adab dalam loka ini diartikan sebagai istana atau tempat raja diambil dari kata dalam yang berarti mempunyai arti istana atau rumah yang ada di dalam istana dan loka yang berarti dunia. Rumah adab ini dibangun tahun 1885.

Dalam loka samawa dulunya menyatu dengan masjid nurul huda namun lantaran renovasi jadinya sudah tidak menyatu melainkan diseberangnya

Istana Dalam Loka di bangkit pada tahun 1885 pada masa Sultan Muhammad Jalaluddin III (1883-1931), yang menjadi Sultan ke-16 dari Dinasti Dewa Dalam Bawa. Istana ini selain untuk menempatkan Sultan pada posisi yang agung, juga sebagai pengganti Istana Bala Sawo yang bangunannya tidak berbeda dengan rumah rakyat pada umumnya.

Pada masanya, Bala Rea yang sekarang dikenal sebagai Istana Dalam Loka yaitu bangunan utama dari komplek istana (”dalam”) disamping beberapa belahan istana lainnya yaitu Alang Aji dan Alang Kamutar, Bala Bulo, Lawang Rare, Sarumung Belo, Bale Pamaning, Jambang Sasir, Pekatik Kamutar dan Keban Alas. Disebelah barat alun-alun terdapat Masjid Kesultanan, Masjid Jami’ Nurulhuda yang telah mengalami perubahan bentuk secara total.

Bahan baku pembangunan istana ini berasal dari desa di sekitar istana, khusus kayu jati ukuran besar didatangkan dari hutan Jati Timung. Pada awalnya atap terbuat dari sirap namun lantaran dikhawatirkan gampang terbakar kemudian diganti dengan materi seng yang dibawa dari Singapura memakai kapal kesultanan berjulukan Mastora.

Konstruksi bangunan istana ini tidak memakai paku besi, melainkan memakai pasak kayu. Istana dibangun dua lantai, tiang lantai satu bersambung dengan tiang lantai dua dimana sambungannya memakai sistem baji yang sangat elastis bila terjadi gempa bumi. Pekerjaan pembangunan istana ini dipimpin Imam Masjid Kedatuan Taliwang berjulukan Imam Haji Hasyim.

Istana Dalam Loka merupakan saksi sejarah yang menggambarkan betapa agungnya semangat religius Kesultanan Sumbawa pada zaman kolonial Belanda. Istana dengan arsitektur rumah panggung ini dirancang secara tepat dengan setiap detail bentuk, jumlah, letak, ukuran, dan ornament bagian-bagiannya merupakan simbolisasi fatwa Agama Islam.

Bahkan, pemaknaan itu tercermin dari proses pembangunannya, yakni selama sembilan bulan 10 hari sesuai dengan umur insan dalam kandungan. Rancang arsitektur istana berisi pesan filosofis “Adat barenti ko syara’, Syara’ barenti ko Kitabullah”, maksudnya bahwa semua aturan adab istiadat maupun nilai-nilai dalam sendi kehidupan Tau Samawa (masyarakat Sumbawa) harus berlandaskan pada Syariat Islam. Salah satu perwujudannya yakni dengan menyatunya bangunan istana dengan Masjid Jami’ Nurulhuda.

Bangunan utama istana berbentuk rumah panggung disebut Bala Rea berupa bangunan kembar yang ditopang oleh 99 tiang terdiri dari 98 tiang kayu jati dan 1 buah tiang gantung. Bilangan 99 melambangkan 99 Nama Yang Mahakuasa (Asmaul Husna) dimaksudkan untuk mengingatkan Sultan.

Bentuk bangunan beratap kembar dengan satu tangga yang tidak persis berada di tengah tetapi terletak di belahan timur merujuk pada salah satu belahan dari rukun sholat yakni “attahiyat”. Bentuk ini mengingatkan kepada Sultan beserta segenap rakyatnya untuk melakukan sholat 5 waktu sebanyak 17 raka’at sehari semalam. Beberapa belahan lain juga merupakan simbol-simbol religius, contohnya hiasan ornamen-ornamen yang berbentuk buah nanas yang menggambarkan Habluminannas (hubungan antar manusia) sedangkan Bangkung di belahan atap istana menggambarkan   Bangunan Dalam Loka menghadap ke selatan, tidak berhadapan dengan Masjid Kesultanan.

Berdasarkan aturan arah mata angin, selatan diyakini sanggup memperlihatkan suasana senap semu nyaman nyawe (sejuk, damai, nyaman dan tenteram) bagi penghuni bangunan istana. Posisi tidak berhadapan dengan masjid memperlihatkan nilai toleransi bagi penghuni istana yang tidak sempat sholat berjamaah di masjid, itu sebabnya dibentuk repan shalat (mushalla) di dalam Bala Rea. Arah selatan juga bermakna berpijak pada masa lalu, artinya Sultan harus arif mengambil pesan tersirat dari bencana masa kemudian untuk kebaikan masa kini.

Dulunya, Istana Dalam Loka berfungsi sebagai sentra pemerintahan sekaligus kediaman Sultan namun fungsi itu berubah semenjak pindahnya Sultan ke Istana Bala Puti pada tahun 1934. Kini, Dalam Loka menjadi cagar budaya yang mengingatkan jikalau dahulu pernah berdiri Kesultanan Sumbawa yang pernah berjaya pada zamannya.  Di sini juga sering dijadikan lokasi penyelenggaraan kegiatan pariwisata dan kebudayaan baik oleh pemerintah maupun oleh masyarakat.

Istana Dalam Loka berlokasi di Pusat kota Sumbawa Besar, berjarak sekitar 2,5 km ke arah tenggara dari Bandara Sultan Kaharruddin, sanggup dicapai dengan kendaraan umum baik angkot, ojek maupun becak. Bila berlibur ke Sumbawa, tidak tepat jikalau anda belum berkunjung ke istana yang mempunyai luas 1.251 m2 dan konon merupakan istana dari kayu berbentuk panggung terbesar di dunia. Namun bila belum sempat tiba dan melihat secara pribadi ke Sumbawa, maka sanggup mengunjungi  Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta dimana model Istana Dalam Loka dijadikan prototype bangunan adab mewakili Provinsi NTB.

Rumah istana Sumbawa atau Dalam Loka yaitu rumah adab atau istana yang didirikan dan dikembangkan oleh pemerintahan Sultan Muhammad Jalaluddin Syah III di Pulau Sumbawa, tepatnya di  kota Sumbawa Besar.

Terdapat pengertian dari Dalam Loka itu sendiri, yaitu kata “Dalam” yang mempunyai arti istana atau rumah yang ada di dalam istana dan “Loka” yang mempunyai arti dunia atau juga tempat. Sehingga sanggup disimpulkan pengertian Dalam Loka merupakan istana atau tempat hunian raja.

Namun, penggunaan rumah adab Dalam Loka ketika ini difungsikan untuk menyimpan benda atau artifak bersejarah milik Kabupaten Sumbawa.

Dalam Loka disusun oleh bangunan kembar yang disokong atau ditahan oleh 98 pilar kayu jati dan 1 pilar pendek (pilar guru) yang dibentuk dari pohon cabe. Jumlah dari seluruh tiang penyokong yaitu 99 tiang yang mewakili 99 sifat Yang Mahakuasa dalam Al-Qur’an (Asmaul Husna). Di Dalam Loka ini terdapat ukiran-ukiran yang merupakan gesekan khas tempat Pulau Sumbawa atau disebut lutuengal yang dipakai untuk ornamen pada kayu bangunannya. Ukiran khas Pulau Sumbawa ini biasanya motif bunga dan juga motif daun-daunan.

Struktur Rumah Adat Tradisional Loka Samawa Sumbawa Nusa Tenggara Barat

Rumah Adat Dalam Loka samawa disusun oleh bangunan kembar yang disokong atau ditahan oleh 98 pilar kayu jati dan 1 pilar pendek (pilar guru) yang dibentuk dari pohon cabe.

Jumlah dari seluruh tiang penyokong yaitu 99 tiang yang mewakili 99 sifat Yang Mahakuasa dalam Al-Qur’an (Asmaul Husna).  Bangunan dalam loka menghadap ke selatan atu tepatnya ke arah Bukit Sampar dan alun-alun kota, ketika memasuki rumah ini terdapat gesekan khas tempat pulau Sumbawa yang disebut lutuengal.

Ukiran khas Pulau Sumbawa ini biasanya motif bunga dan juga motif daun-daunan. rumah dalam loka samawa hanya mempunyai satu pintu kanal yang besar untuk masuk dan keluar. Untuk masuk sanggup melewati Tangga depan yang dimiliki Dalam Loka tidak menyerupai tangga pada umumnya, tangga ini berupa lantai kayu yang dimiringkan sampai menyentuh tanah dan lantai kayu tersebut ditempeli oleh potongan kayu sebagai penahan pijakan.

Pertama kali memasuki istana akan ditemukan susunan tangga yang menjadi satu-satunya jalan masuk ke istana. Tangga ini menyimbolkan bahwa siapapun harus menghormati raja.

Hal ini tercermin dari keharusan membungkuk bagi siapapun yang melewati tangga ini.

di dalam loka samawa terdapat dua bangunan yaitu bala rea dan graha besar yang mempunyai fungsi tersendiri.

Dibagian depan ada :

Lunyuk Agung : Di belahan depan bangunan terdapat ruangan berjulukan Lunyuk Agung yang berfungsi sebagai tempat musayawarah, resepsi atau program pertemuan lainnya.

Lunyuk Mas       : Di sebelah Lunyuk Agung terdapat ruangan yang berjulukan Lunyuk Mas, fungsinya yaitu sebagai ruangan khusus untuk permaisuri, istri-istri menteri dan staf penting kerajaan ketika dilangsungkan upacara adat.

Bala bulo                                 : ada 2 lantai, lantai pertama berfungsi sebagai tempat bermain putra/putri raja dan lantai kedua berfungsi sebagai tempat permaisuri dan istri para aristokrat ketika menyaksikan pertunjukan di lapangan istana. (Anak tangga menuju tingkat dua berjumlah 17   anak tangga. Jumlah tersebut mewakili  17 rukun sholat.)

Di belahan dalam ada :

Ruang dalam belahan barat     : ruangan-ruangan ini hanya disekat oleh kelambu fungsinya yaitu sebagai tempat shalat, di sebelah utaranya merupakan kamar tidur permaisuri dan dayang-dayang.

Ruang dalam belahan timur    : terdiri dari empat kamar dan diperuntukan bagi putra/putri raja yang sudah berumah tangga di ujung utara ruangan ini yaitu kamar pengasuh rumah tangga istana.

Di belahan belakang ada :

Ruang sidang  : pada malam hari ruangan ini dijadikan tempat tidur para dayang.

Kamar mandi  : memanjang dari kamar peraduan raja sampai kamar permaisuri.

Arah rumah adab menghadap selatan pun menurut dari pengertian sukunya, selatan dipercaya sanggup memperlihatkan suasana sejuk, tenteram, damai, dan nyaman. Tidak hanya itu, selatan pun bermakna menatap pada masa kemudian yang bila diartikan pemimpin harus mempunyai kecerdikan dan kearifan dalam menyikapi masa kemudian yang sanggup dibawa ke masa kini.

Dan Istana kokoh yang dibangun dari materi kayu ini meninggalkan pesan filosofis“adat barenti ko syara’, syara’ barenti ko kitabullah’ yang artinya semua aturan adab istiadat maupun nilai-nilai dalam sendi kehidupan Tau Samawa (warga Sumbawa) harus bersemangatkan pada Syariat Islam. Salah satu perwujudannya yakni dengan menyatunya bangunan Istana Dalam Loka dengan Masjid Nurulhuda.

Bentuk bangunan dengan tiga atap yang tidak berdiri di tengah istana. Model atap menyerupai itu diambil dari hakekat attahiyatpada posisi sholat. Sholat yaitu tiang agama. Bangunan ini juga mengingatkan kepada kita untuk melakukan sholat 5 waktu sebanyak 17 raka’at sehari semalam.

Demikian Keunikan Sejarah Rumah Adat Tradisional Loka Samawa Sumbawa Nusa Tenggara Barat


Sumber https://www.senibudayawisata.com/