Tempat Wisata Keunikan Sejarah Etika Istiadat Budaya Suku Sunda Tempat Jawa Barat

Keunikan Sejarah Adat Istiadat Budaya Suku Sunda Daerah Jawa Barat Tempat Wisata Keunikan Sejarah Adat Istiadat Budaya Suku Sunda Daerah Jawa Barat
Keunikan Sejarah Adat Istiadat Budaya Suku Sunda Daerah Jawa Barat  Keunikan Sejarah Adat Istiadat Budaya Suku Sunda Daerah Jawa Barat Tempat Wisata Keunikan Sejarah Adat Istiadat Budaya Suku Sunda Daerah Jawa Barat

Suku Sunda yaitu suku etnis terbesar yang berasal kota Bandung Jawa Barat dengan mempunyai banyak ragam budaya mulai sopan santun istiadat, upacara adat, pakaian sopan santun jawa barat, kesenian, musik dan lainnya . Suku Sunda mempunyai populasi dengan jumlah  65% penduduk Jawa Barat secara keseluruhan selain ada juga Suku Jawa , batak dan lainnya dijumpai di kawasan pecahan utara Jawa Barat.

Ragam Adat Kebudayaan Sunda merupakan salah satu kebudayaan yang menjadi sumber kekayaan
bagi bangsa Indonesia yang perlu dilestarikan. Keunikan Sejarah Adat Istiadat Budaya Suku Sunda Daerah Jawa Barat yaitu aset sumber devisa bagi negara yang bisa mendatangkan sumber pendapatan bagi negera dengan banyak sekali objek wisata.

Sejarah suku Sunda 

Kerajaan Sunda muncul pada masa ke- 8 sebagai lanjutan atau penerus kerajaan Tarumanegara. Pusat kerajaannya berada disekitar Bogor, sekarang. Sejarah Sunda mengalami babak gres lantaran arah pesisir utara di Jayakarta (Batavia) masuk kekuasaan kompeni Belanda semenjak 1610 dan dari arah pedalaman sebelah timur masuk kekuasaan Mataram semenjak 1625

Menurut RW. Van Bemelan pada tahun 1949, Sunda merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk menamai dataran pecahan barat bahari wilayah India timur, sedangkan dataran pecahan tenggara dinamai Sahul. Suku Sunda yaitu kelompok etnis yang berasal dari pecahan barat pulau Jawa, Indonesia.

Yaitu berasal dan bertempat tinggal di Jawa Barat. Daerah yang juga sering disebut dengan Tanah Pasundan atau Tatar Sunda.

Pada tahun 1998, suku Sunda berjumlah kurang lebih 33 juta jiwa, kebanyakan dari mereka hidup di Jawa Barat dan sekitar 1 juta jiwa hidup di provinsi lain. Dari antara mereka, penduduk kota mencapai 34,51%, suatu jumlah yang cukup berarti yang bisa dijangkau dengan banyak sekali media. Kendatipun demikian, suku Sunda ialah salah satu kelompok orang yang paling kurang dikenal di dunia. Nama mereka sering dianggap sebagai orang Sudan di Afrika dan salah dieja dalam ensiklopedia. Beberapa koreksi ejaan dalam komputer juga mengubahnya menjadi Sudanese (dalam bahasa Inggris).

Pada masa ke-20, sejarah mereka sudah terjalin melalui bangkitnya nasionalisme Indonesia yang kesannya menjadi Indonesia modern.

Kerajaan Sunda yaitu kerajaan yang cinta damai, selama pemerintahannya tidak melaksanakan perluasan untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Keturunan Kerajaan Sunda sudah melahirkan kerajaan- kerajaan besar di Nusantara diantaranya Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Majapahit, Kerajaan Mataram, Kerajaan Cirebon, Kerajaan Banten, dll.

Kebudayaan Suku Sunda

Kebudayaan khas sunda mempunyai daya tarik yang berpengaruh bagi para wisatawan yang tiba ke kawasan tersebut. Beberapa kesenian dan kebudayaan yang ada di Jawa Barat

1.Pakaian Adat Suku Sunda

Dalam gaya berpakaian, masyarakat suku Sunda mengenal beberapa jenis baju sopan santun yang didasarkan pada fungsi, umur, atau tingkatan sosial kemasyarakatan pemakainya. Berdasarkan tingkat strata sosial pemakai misalnya, pakaian sopan santun Jawa Barat bisa dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu pakaian rakyat jelata, kaum menengah, dan para bangsawan.

a. Pakaian Adat untuk Rakyat Jelata

Bagi rakyat jelata, laki-laki Sunda pada masa silam selalu mengenakan pakaian yang sangat sederhana. Mereka mengenakan celana komprang atau pangsi yang dilengkapi dengan sabuk kulit atau kain. Sebagai atasan, baju kampret atau baju salontren yang dilengkapi sarung poleng yang diselempangkan menyilang di pundak tak pernah lepas dalam menjalani keseharian. Pakaian sopan santun Sunda tersebut juga akan dilengkapi dengan epilog kepala yang berjulukan ikat logen model hanjuang nangtung atau barangbang semplak dan ganjal kaki berupa tarumpah atau terompah dari kayu

Untuk para wanita, pakaian sopan santun Jawa Barat yang dikenakan juga terbilang sederhana. Perlengkapan mirip sinjang kebat (kain batik panjang), beubeur (ikat pinggang), kamisol (kutang atau BH), baju kebaya, dan selendang batik yaitu pilihan utama. Sebagai riasan pelengkap, gaya pakaian tersebut juga akan disertai dengan hiasan rambut yang digelung jucung (disanggul kecil ke atas), aksesoris berupa geulang akar bahar (gelang akar bahar), ali meneng (cincin polos), suweng pelenis (giwang bundar), dan ganjal kaki berupa sendal keteplek (sendal jepit)

b. Pakaian Adat untuk Kaum Menengah

Beda kelas, beda pula tampilannya. Untuk mereka yang terbilang kaum menengah dalam strata sosial, pemakaian pakaian sopan santun Jawa Barat dikhususkan dengan tambahan beberapa pernik. Para laki-laki selain akan menggunakan baju bedahan putih, kain kebat batik, ganjal kaki sandal tarumpah, sabuk (beubeur), dan ikat kepala, mereka juga akan mengenakan arloji rantai emas yang digantungkan di saku baju sebagai kelengkapan berbusana

Sementara untuk para wanitanya, pakaian sopan santun Jawa Barat yang dikenakan yaitu kebaya beraneka warna sebagai atasan, kain kebat batik beraneka corak sebagai bawahan, beubeur (ikat pinggang), selendang berwarna, ganjal kaki berupa selop atau kelom geulis, dan perhiasan berupa kalung, gelang, giwang, dan cincin yang terbuat dari perak atau emas.

c. Pakaian Adat untuk Bangsawan

Bagi para darah biru atau menak, pakaian yang digunakan yaitu simbol keagungan. Oleh alasannya yaitu itu, dari segi desain, pakaian ini terlihat sebagai pakaian sopan santun Jawa Barat yang paling rumit dan estetik

Bagi para laki-laki bangsawan, pakaian sopan santun Sunda yang mereka kenakan terdiri dari jas tutup berbahan beludru hitam yang disulam benang emas menyusuri tepi dan ujung lengan, celana panjang dengan motif sama, kain dodot motif rengreng parang rusak, benten atau sabuk emas, parang untuk tutup kepala, dan selop hitam sebagai ganjal kaki. Sedangkan untuk para wanita, pakaian sopan santun Jawa Barat yang dikenakan kebaya beludru hitam bersulam benang emas, kain kebat motif rereng, dan ganjal kaki berupa sepatu atau selop berbahan beludru hitam bersulam manik-manik. Tak lupa beberapa pernik perhiasan juga dikenakan mirip tusuk konde emas untuk rambut yang disanggul, giwang, cincin, bros, kalung, gelang keroncong, peniti rantai, dan beberapa perhiasan lain yang terbuat dari emas bertahta berlian.

d. Baju Adat Sunda yang Resmi

Karena mempunyai bermacam-macam jenis pakaian adat, provinsi Jawa Barat kemudian menciptakan standar baku baju adatnya semenjak beberapa dasawarsa terakhir. Pakaian sopan santun Jawa Barat yang resmi tersebut bisa kita lihat pada program pemilihan mojang dan jajaka yang selalu digelar setiap tahunnya. Berikut ini yaitu gambar dari pakaian resmi tersebut

Para jajaka menggunakan jas takwa atau jas tutup dengan warna bebas (lebih sering hitam), celana panjang dengan warna yang sama, kain samping yang diikatkan di pinggang, epilog kepala berupa bendo, dan ganjal kaki selop. Hiasan yang dikenakan hanya berupa jam rantai yang biasanya dijepitkan pada saku jas. Sementara untuk para mojang, mereka akan menggunakan pakaian berupa kebaya polos dengan hiasan sulam, kain kebat, beubeur (ikat pinggang), kutang (kamisol), karembong (selendang) sebagai pemanis, dan ganjal kaki berupa selop dengan warna sama mirip warna kebaya. Adapun untuk hiasannya yaitu tusuk konde berhias bunga untuk rambut disanggul, giwang, cincin, bros, kalung, gelang keroncong, peniti rantai, dan beberapa perhiasan lain yang terbuat dari emas bertahta berlian

e. Pakaian Pengantin Adat Sunda

Untuk keperluan upacara sopan santun perkawinan, para pengantin sopan santun Sunda akan mengenakan pakaian khusus yang dinamai pakaian Pengantin Sukapura. Pakaian ini untuk mempelai laki-laki berupa jas tutup berwarna putih yang dilengkapi ikat pinggang warna putih, kain rereng sebagai bawahan, tutup kepala parang motif rereng pula, dan selop berwarna putih. Untuk hiasannya, kalung panjang dari bunga melati dan keris atau kujang sebagai senjata tradisionalny

Sementara untuk mempelai wanita, atasannya berupa kebaya brukat warna putih, bawahan berupa kain rereng eneng, benten atau ikat pinggang warna emas, dan ganjal kaki selop warna putih. Adapun hiasannya berupa perhiasan kilat bahu, kalung panjang, gelang, bros, giwang, dan cincin, serta sanggulan rambut yang dilengkapi hiasan siger subadra lima untaian bunga sedap malam (mangle), dan tujuh buah kembang goyang

2. Rumah Adat Suku Sunda

Secara umum rumah tradisional Sunda yaitu sebuah rumah panggung sama mirip rumah – rumah tradisional lainnya yang ada di Indonesia. Bentuk rumah panggung ini bertujuan untuk menghindari dilema – dilema dari lingkungan yang sanggup mengancam penghuninya.

Dilihat berdasarkan bentuk atapnya, maka rumah tradisional Sunda terbagi atas beberapa ciri yang berbeda satu dengan yang lainnya:

Jolopong (sebutan untuk rumah dengan atap pelana yang betuknya memanjang)
Perahu Kumureb (sebutan untuk rumah dengan bentuk atap perisai “oleh masyarakat sunda, disebut bahtera kumureb lantaran bentuk atap mirip bahtera terbalik”).
Julang Ngapak (dikarenakan bentuk atapnya mirip sayap burung yang sedang terbang).
Badak Heuay (dikarenakan bentuk atapnya mirip seekor warak yang sedang membuka mulutnya).
Tagog Anjing (dikarenakan bentuk atapnya seperi seekor anjing yang sedang duduk).
Capit Gunting (dikarenakan pecahan atas atapnya yang saling menyilang berbentuk gunting).

3. Seni Tari Suku Sunda

Tari Jaipongan , Tanah Sunda (Priangan) dikenal mempunyai aneka budaya yang unik dan menarik, Jaipongan ialah salah satu seni budaya yang populer dari kawasan ini. Jaipongan atau Tari Jaipong bekerjsama yaitu tarian yang sudah moderen lantaran merupakan modifikasi atau pengembangan dari tari tradisional khas Sunda yakni Ketuk Tilu.Tari Jaipong ini dibawakan dengan iringan musik yang khas pula, yaitu Degung. Musik ini yaitu kumpulan bermacam-macam alat musik mirip Kendang, Go’ong, Saron, Kacapi, dsb. Degung bisa diibaratkan ‘Orkestra’ dalam musik Eropa/Amerika. Ciri khas dari Tari Jaipong ini ialah musiknya yang menghentak, dimana alat musik kendang terdengar paling menonjol selama mengiringi tarian. Tarian ini biasanya dibawakan oleh seorang, berpasangan atau berkelompok. Sebagai tarian yang menarik, Jaipong sering dipentaskan pada acara-acara hiburan, selamatan atau pesta pernikahan. Selain tari jaipongan, ada juga seni tari merak dan tari topeng.

4. Alat Musik Khas Suku Sunda

Calung ialah alat musik Sunda yang merupakan prototipe dari angklung. Berbeda dengan angklung yang dimainkan dengan cara digoyangkan, cara menabuh calung ialah dengan memukul batang (wilahan, bilah) dari ruas-ruas (tabung bambu) yang tersusun berdasarkan titi laras (tangga nada) pentatonik (da-mi-na-ti-la). Jenis bambu untuk pembuatan calung kebanyakan dari awi wulung (bambu hitam), namun ada pula yang dibuat dari awi temen (bambu yang berwarna putih).
Angklung ialah sebuah alat atau waditra kesenian yang terbuat dari bambu khusus yang ditemukan oleh Bapak Daeng Sutigna sekitar tahun 1938. Ketika awal penggunaannya angklung masih sebatas kepentingan kesenian local atau tradisional

Ketuk Tilu ialah suatu tarian pergaulan dan sekaligus hiburan yang biasanya diselenggarakan pada program pesta perkawinan, program hiburan epilog kegiatan atau diselenggrakan secara khusus di suatu tempat yang cukup luas. Pemunculan tari ini di masyarakat tidak ada kaitannya dengan sopan santun tertentu atau upacara sakral tertentu tapi murni sebagai pertunjukan hiburan dan pergaulan. Oleh alasannya yaitu itu tari ketuk tilu ini banyak disukai masyarakat terutama di pedesaan yang jarang kegiatan hiburan.

Kacapi Suling ialah salah satu jenis kesenian Sunda yang memadukan bunyi alunan Suling dengan Kacapi (kecapi), iramanya sangat merdu yang biasanya diiringi oleh mamaos (tembang) Sunda yang memerlukan cengkok/ alunan tingkat tinggi khas Sunda. Kacapi Suling berkembang pesat di kawasan Cianjur dan kemudian menyebar kepenjuru Parahiangan Jawa Barat dan seluruh dunia.

Adat Istiadat Suku Sunda

A.Upacara Adat Masa Kehamilan

1. Upacara Mengandung Empat Bulan

Dulu Masyarakat Jawa Barat apabila seorang perempuan gres mengandung 2 atau 3 bulan belum disebut hamil, masih disebut mengidam. Setelah lewat 3 bulan barulah disebut hamil. Upacara mengandung Tiga Bulan dan Lima Bulan dilakukan sebagai pemberitahuan kepada tetangga dan kerabat bahwa perempuan itu sudah betul-betul hamil. Namun kini kecenderungan orang-orang melaksanakan upacara pada ketika kehamilan menginjank empat bulan, lantaran pada usia kehamilan empat bulan itulah ketika ditiupkannya roh pada jabang bayi oleh Yang Mahakuasa SWT. Biasanya pelaksanaan upacara Mengandung empat Bulan ini mengundang pengajian untuk membacakan do’a selamat, biasanya doa nurbuat dan doa lainnya semoga bayinya mulus, sempurna, sehat, dan selamat.

2. Upacara Mengandung Tujuh Bulan/Tingkeban

Upacara Tingkeban yaitu upacara yang diselenggarakan pada ketika seorang ibu mengandung 7 bulan. Hal itu dilaksanakan semoga bayi yang di dalam kandungan dan ibu yang melahirkan akan selamat. Tingkeban berasal dari kata tingkeb artinya tutup, maksudnya si ibu yang sedang mengandung tujuh bulan dihentikan bercampur dengan suaminya hingga empat puluh hari sehabis persalinan, dan jangan bekerja terlalu berat lantaran bayi yang dikandung sudah besar, hal ini untuk menghindari dari sesuatu yang tidak diinginkan. Di dalam upacara ini biasa diadakan pengajian biasanya membaca ayat-ayat Al-Quran surat Yusuf, surat Lukman dan surat Maryam. Di samping itu dipersiapkan pula peralatan untuk upacara memandikan ibu hamil , dan yang utama yaitu rujak kanistren yang terdiri dari 7 macam buah-buahan. Ibu yang sedang hamil tadi dimandikan oleh 7 orang keluarga bersahabat yang dipimpin seorang paraji secara bergantian dengan menggunakan 7 lembar kain batik yang digunakan bergantian setiap guyuran dan dimandikan dengan air kembang 7 rupa. Pada guyuran ketujuh dimasukan belut hingga mengena pada perut si ibu hamil, hal ini dimaksudkan semoga bayi yang akan dilahirkan sanggup berjalan lancar (licin mirip belut). Bersamaan dengan jatuhnya belut, kelapa gading yang telah digambari tokoh wayang oleh suaminya dibelah dengan golok. Hal ini dimaksudkan semoga bayi yang dikandung dan orang tuanya sanggup berbuat baik lahir dan batin, mirip keadaan kelapa gading warnanya elok, bila dibelah airnya higienis dan manis. Itulah perumpamaan yang diharapkan bagi bayi yang dikandung supaya mendapatkan keselamatan dunia-akhirat.

Sesudah selesai dimandikan biasanya ibu hamil didandani dibawa menuju ke tempat rujak kanistren tadi yang sudah dipersiapkan. Kemudian sang ibu menjual rujak itu kepada belum dewasa dan para tamu yang hadir dalam upacara itu, dan mereka membelinya dengan menggunakan talawengkar, yaitu genteng yang sudah dibuat bulat mirip koin. Sementara si ibu hamil menjual rujak, suaminya membuang sisa peralatan mandi mirip air sisa dalam jajambaran, belut, bunga, dsb. Semuanya itu harus dibuang di jalan simpang empat atau simpang tiga. Setelah rujak kanistren habis terjual selesailah serangkaian upacara sopan santun tingkeban.

3. Upacara Mengandung Sembilan Bulan

Upacara sembuilan bulan dilaksanakan setelah usia kandungan masuk sembilan bulan. Dalam upacara ini diadakan pengajian dengan maksud semoga bayi yang dikandung cepat lahir dengan selamat lantaran sudah waktunya lahir. Dalam upacara ini dibuar bubur lolos, sebagai simbul dari upacara ini yaitu supaya menerima fasilitas waktu melahirkan, lolos. Bubur lolos ini biasanya dibagikan beserta nasi tumpeng atau kuliner lainnya.

4. Upacara Reuneuh Mundingeun

Upacara Reuneuh Mundingeun dilaksanakan apabila perempuan yang mengandung lebih dari sembilan bulan,bahkan ada yang hingga 12 bulan tetapi belum melahirkan juga, perempuan yang hamil itu disebut Reuneuh Mundingeun, mirip munding atau kerbau yang bunting. Upacara ini diselenggarakan semoga perempuan yang hamil renta itu segera melahirkan jangan mirip kerbau, dan semoga tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Pada pelaksanaannya leher perempuan itu dikalungi kolotok dan dituntun oleh indung beurang sambil membaca doa dibawa ke sangkar kerbau. Kalau tidak ada sangkar kerbau, cukup dengan mengelilingi rumah sebanyak tujuh kali. Perempuan yang hamil itu harus berbuat mirip kerbau dan menirukan bunyi kerbau sambil dituntun dan diiringkan oleh belum dewasa yang memegang cambuk. Setelah mengelilingi sangkar kerbau atau rumah, kemudian oleh indung beurang dimandikan dan disuruh masuk ke dalam rumah. Di kota pelaksanaan upacara ini sudah jarang dilaksanakan.

B. Upacara Kelahiran dan Masa Bayi

1. Upacara Memelihara Tembuni

Tembuni/placenta dipandang sebagai saudara bayi lantaran itu dihentikan dibuang sembarangan, tetapi harus diadakan upacara waktu menguburnya atau menghanyutkannya ke sungai. Bersamaan dengan bayi dilahirkan, tembuni (placenta) yang keluar biasanya dirawat dibersihkan dan dimasukan ke dalam pendil dicampuri bumbu-bumbu garam, asam dan gula merah kemudian ditutup menggunakan kain putih yang telah diberi udara melalui bambu kecil (elekan). Pendil diemban dengan kain panjang dan dipayungi, biasanya oleh seorang paraji untuk dikuburkan di halaman rumah atau bersahabat rumah. Ada juga yang dihanyutkan ke sungai secara adat. Upacara penguburan tembuni disertai pembacaan doa selamat dan memberikan hadiah atau tawasulan kepada Syeh Abdulkadir Jaelani dan jago kubur. Di bersahabat kuburan tembuni itu dinyalakan cempor/pelita hingga tali sentra bayi lepas dari perutnya.. Upacara pemeliharaan tembuni dimaksudkan semoga bayi itu selamat dan kelak menjadi orang yang berbahagia.

2. Upacara Nenjrag Bumi

Upacara Nenjrag Bumi ialah upacara memukulkan alu ke bumi sebanyak tujuh kali di bersahabat bayi, atau cara lain yaitu bayi dibaringkan di atas pelupuh (lantai dari bambo yang dibelah-belah ), kemudian indung beurang menghentakkan kakinya ke pelupuh di bersahabat bayi. Maksud dan tujuan dari upacara ini ialah semoga bayi kelak menjadi anak yang tidak lekas terkejut atau takut kalau mendengar bunyi yang tiba-tiba dan menakutkan.

3 .Upacara Puput Puseur

Setelah bayi terlepas dari tali pusatnya, biasanya diadakan selamatan. Tali sentra yang sudah lepas itu oleh indung beurang dimasukkan ke dalam kanjut kundang . Seterusnya pusar bayi ditutup dengan uang logam/benggol yang telah dibungkus kasa atau kapas dan diikatkan pada perut bayi, maksudnya semoga sentra bayi tidak dosol, menonjol ke luar. Ada juga pada ketika upacara ini dilaksanakan sekaligus dengan dukungan nama bayi. Pada upacara ini dibacakan doa selamat, dan disediakan bubur merah bubur putih. Ada kepercayaan bahwa tali sentra (tali ari-ari) termasuk saudara bayi juga yang harus dipelihara dengan sungguh-sungguh. Adapun saudara bayi yang tiga lagi ialah tembuni, pembungkus, dan kakawah. Tali ari, tembuni, pembungkus, dan kakawah biasa disebut dulur opat kalima pancer, yaitu empat bersaudara dan kelimanya sebagai pusatnya ialah bayi itu. Kesemuanya itu harus dipelihara dengan baik semoga bayi itu kelak setelah pandai balig cukup akal sanggup hidup rukun dengan saudara-saudaranya (kakak dan adiknya) sehingga tercapailah kebahagiaan.

4. Upacara Ekah

Sebetulnya kata ekah berasal dari bahasa Arab, dari kata aqiqatun “anak kandung”. Upacara Ekah ialah upacara menebus jiwa anak sebagai dukungan Tuhan, atau ungkapan rasa syukur telah dikaruniai anak oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, dan mengharapkan anak itu kelak menjadi orang yang saleh yang sanggup menolong kedua orang tuanya nanti di alam akhirat. Pada pelaksanaan upacara ini biasanya diselenggarakan setelah bayi berusia 7 hari, atau 14 hari, dan boleh juga setelah 21 hari. Perlengkapan yangb harus disediakan yaitu domba atau kambing untuk disembelih, kalau anak laki-laki dombanya harus dua (kecuali bagi yang tidak bisa cukup seekor), dan kalau anak perempuan hanya seekor saja. Domba yang akan disembelih untuk upacara Ekah itu harus yang baik, yang memenuhi syarat untuk kurban. Selanjutnya domba itu disembelih oleh ahlinya atau Ajengan dengan pembacaan doa selamat, setelah itu dimasak dan dibagikan kepada handai tolan.

5. Upacara Nurunkeun

Upacara Nurunkeun ialah upacara pertama kali bayi dibawa ke halaman rumah, maksudnya mengenal lingkungan dan sebagai pemberitahuan kepada tetangga bahwa bayi itu sudah sanggup digendong dibawa berjalan-jalan di halaman rumah. Upacara Nurun keun dilaksanakan setelah tujuh hari upacara Puput Puseur. Pada pelaksanaannya biasa diadakan pengajian untuk keselamatan dan sebagai hiburannya diadakan pohon tebu atau pohon pisang yang digantungi aneka makanan, permainan belum dewasa yang diletakan di ruang tamu. Untuyk diperebutkan oleh para tamu terutama oleh anak-anak.

6. Upacara Cukuran/Marhabaan

Upacara cukuran dimaksudkan untuk membersihkan atau menyucikan rambut bayi dari segala macam najis. Upacara cukuran atau marhabaan juga merupakan ungkapan syukuran atau terima kasih kepada Tuhan YME yang telah mengkaruniakan seorang anak yang telah lahir dengan selamat. Upacara cukuran dilaksanakan pada ketika bayi berumur 40 hari. Pada pelaksanaannya bayi dibaringkan di tengah-tengah para ajakan disertai perlengkapan bokor yang diisi air kembang 7 rupa dan gunting yang digantungi perhiasan emas berupa kalung, cincin atau gelang untuk mencukur rambut bayi. Pada ketika itu mulailah para ajakan berdo’a dan berjanji atau disebut marhaban atau pupujian, yaitu memuji sifat-sifat nabi Muhammad saw. dan membacakan doa yang mempunyai makna selamat lahir bathin dunia akhirat. Pada ketika marhabaan itulah rambut bayi digunting sedikit oleh beberapa orang yang berdoa pada ketika itu.

7. Upacara Turun Taneuh

Upacara Turun Taneuh ialah upacara pertama kali bayi menjejakkan kakinya ke tanah, diselenggarakan setelah bayi itu agak besar, setelah sanggup merangkak atau melangkah sedikit-sedikit. Upacara ini dimaksudkan semoga si anak mengetahui keduniawian dan untuk mengetahui akan menjadi apakah anak itu kelak, apakah akan menjadi petani, pedagang, atau akan menjadi orang yang berpangkat. Perlengkapan yang disediakan harus lebih lengkap dari upacara Nurunkeun, selain aneka kuliner juga disediakan kain panjang untuk menggendong, tikar atau taplak putih, padi segenggam, perhiasan emas (kalung, gelang, cincin), uang yang terdiri dari uang lembaran ratusan, rebuan, dan puluh ribuan. Jalannya upacara, apabila para ajakan telah berkumpul diadakan doa selamat, setelah itu bayi digendong dan dibawa ke luar rumah. Di halam rumah telah dipersiapkan aneka makanan, perhiasan dan uang yang disimpan di atas kain putih, selanjutnya kaki si anak diinjakan pada padi/ makanan, emas, dan uang, hal ini dimaksudkan semoga si anak kelak pandai mencari nafkah. Kemudian anak itu dilepaskan di atas barang-barang tadi dan dibiarkan merangkak sendiri, para ajakan memperhatikan barang apa yang pertama kali dipegangnya. Jika anak itu memegang padi, hal itu pertanda anak itu kelak menjadi petani. Jika yang dipegang itu uang, pertanda anak itu kelak menjadi saudagar/pengusaha. Demikian pula apabila yang dipegangnya emas, pertanda anak itu kelak akan menjadi orang yang berpangkat atau mempunyai kedudukan yang terhormat.

C. Upacara Masa Kanak-kanak

1. Upacara Gusaran

Gusaran yaitu meratakan gigi anak perempuan dengan alat khusus. Maksud upacara Gusaran ialah semoga gigi anak perempuan itu rata dan terutama semoga nampak bertambah cantik. Upacara Gusaran dilaksanakan apabila anak perempuan sudah berusia tujuh tahun. Jalannya upacara, anak perempuan setelah didandani duduk di antara para undangan, selanjutnya membacakan doa dan solawat kepada Nabi Muhammad SAW. Kemudian Indung beurang melaksanakan gusaran terhadap anak perempuan itu, setelah selesai kemudian dibawa ke tangga rumah untuk disawer (dinasihati melalui syair lagu). Selesai disawer, kemudian dilanjutkan dengan makan-makan. Biasanya dalam upacara Gusaran juga dilaksanakan tindikan, yaitu melubangi daun indera pendengaran untuk memasang anting-anting, semoga kelihatannya lebih anggun lagi.

2. Upacara Sepitan/Sunatan

Upacara sunatan/khitanan dilakukan dengan maksud semoga alat vitalnya higienis dari najis . Anak yang telah menjalani upacara sunatan dianggap telah melaksanakan salah satu syarat utama sebagai umat Islam. Upacara Sepitan anak perempuan diselenggarakan pada waktu anak itu masih kecil atau masih bayi, supaya tidak malu. Upacara sunatan diselenggarakan biasanya kalau anak laki-laki menginjak usia 6 tahun. Dalam upacara sunatan selain paraji sunat, juga diundang para tetangga, handai tolan dan kerabat. Pada pelaksanaannya pagi-pagi sekali anak yang akan disunat dimandikan atau direndam di kolam hingga menggigil (kini hal semacam itu jarang dilakukan lagi berhubung teknologi kesehatan sudah berkembang), kemudian dipangku dibawa ke halaman rumah untuk disunat oleh paraji sunat (bengkong), banyak orang yang menyaksikan diantaranya ada yang memegang ayam jantan untuk disembelih, ada yang memegang petasan dan macam-macam tetabuhan sambil menyanyikan marhaba. Bersamaan dengan anak itu disunati, ayam jantan disembelih sebagai bela, petasan disulut, dan tetabuhan dibunyikan . Kemudian anak yang telah disunat dibawa ke dalam rumah untuk diobati oleh paraji sunat. Tidak usang setelah itu para ajakan pun berdatangan, baik yang bersahabat maupun yang jauh. Mereka memperlihatkan uang/ nyecep kepada anak yang disunat itu semoga bergembira dan sanggup melupakan rasa sakitnya. Pada program ini adapula yang menyelenggarakan hiburan mirip wayang golek, sisingaan atau aneka tarian.

D. Upacara Adat Perkawinan

Secara kronologis upacara sopan santun perkawinan sanggup diurut mulai dari sopan santun sebelum kesepakatan nikah, ketika pernikahan dan sehabis kesepakatan nikah

1. Upacara sebelum kesepakatan nikah

(a) Neundeun Omong : yaitu kunjungan orang renta jejaka kepada orang renta si gadis untuk bersilaturahmi dan menyimpan pesan bahwa kelak anak gadisnya akan dilamar.

(b) Ngalamar : nanyaan atau nyeureuhan yaitu kunjungan orang renta jejaka untuk meminang/melamar si gadis, dalam kunjungan tersebut dibahas pula mengenai rencana waktu penikahannya. Sebagai program epilog dalam ngalamar ini si pelamar memperlihatkan uang sekedarnya kepada orang renta si gadis sebagai panyangcang atau pengikat, kadang kala dilengkapi pula dengan sirih pinang selengkapnya disertai kue-kue & buah-buahan. Mulai ketika itu si gadis telah terikat dan disebut orang bertunangan.

(c) Seserahan: yaitu menyerahkan si jejaka calon pengantin laki-laki kepada calon mertuanya untuk dikawinkan kepada si gadis. Pada program ini biasa dihadiri oleh para kerabat terdekat, di samping menyerahkan calon pengantin laki-laki juga barang-barang berupa uang, pakaian, perhiasan, kosmetik dan perlengkapan wanita, dalam hal ini tergantung pula pada kemampuan pihak calon pengantin pria. Upacara ini dilakukan 1 atau 2 hari sebelum hari perkawinan atau adapula yang melaksanakan pada hari perkawinan sebelum pernikahan dimulai.

(d) Ngeuyeuk Seureuh: artinya mengerjakan dan mengatur sirih serta mengait-ngaitkannya. Upacara ini dilakukan sehari sebelum hari perkawinan, yang menghadiri upacara ini yaitu kedua calon pengantin, orang renta calon pengantin dan para ajakan yang telah dewasa. Upacara dipimpin oleh seorang pengetua, benda perlengkapan untuk upacara ini mirip sirih beranting, setandan buah pinang, mayang pinang, tembakau, kasang jinem/kain, elekan, dll semuanya mengandung makna/perlambang dalam kehidupan berumah tangga. Upacara ngeuyeuk seureuh dimaksudkan untuk menasihati kedua calon mempelai wacana pandangan hidup dan cara menjalankan kehidupan berumah tangga berdasarkan etika dan agama, semoga senang dan selamat. Upacara pokok dalam sopan santun perkawinan yaitu ijab kabul atau pernikahan .

2. Upacara Adat Akad Nikah

Upacara perkawinan sanggup dilaksanakan apabila telah memenuhi ketentuan-ketentuan yang telah digariskan dalam agama Islam dan adat. Ketentuan tersebut adalah: adanya cita-cita dari kedua calon mempelai tanpa paksaan, harus ada wali nikah yaitu ayah calon mempelai perempuan atau wakilnya yang sah, ada ijab kabul, ada saksi dan ada mas kawin. Yang memimpin pelaksanaan pernikahan yaitu seorang Penghulu atau Naib, yaitu pejabat Kantor Urusan Agama. Upacara pernikahan biasa dilaksanakan di Mesjid atau di rumah mempelai wanita. Adapun pelaksanaannya yaitu kedua mempelai duduk bersanding diapit oleh orang renta kedua mempelai, mereka duduk berhadapan dengan penghulu yang di kanan kirinya didampingi oleh 2 orang saksi dan para ajakan duduk berkeliling. Yang mengawinkan harus wali dari mempelai perempuan atau mewakilkan kepada penghulu. Kalimat menikahkan dari penghulu disebut ijab, sedang sambutan dari mempelai laki-laki disebut qobul (kabul). Setelah dilakukan ijab-qobul dengan baik selanjutnya mempelai laki-laki membacakan talek, yang bermakna ‘janji’ dan menandatangani surat nikah. Upacara diakhiri dengan penyerahan mas kawin dari mempelai laki-laki kepada mempelai wanita.

3. Upacara Adat sehabis kesepakatan nikah

a) Munjungan/sungkeman : yaitu kedua mempelai sungkem kepada kedua orang renta mempelai untuk memohon do’a restu.

b) Upacara Sawer (Nyawer): perlengkapan yang dibutuhkan yaitu sebuah bokor yang berisi beras kuning, uang kecil (receh) /logam, bunga, dua buah tektek (lipatan sirih yang berisi ramuan untuk menyirih), dan permen. Pada pelaksanaannya kedua mempelai duduk di halaman rumah di bawah cucuran atap (panyaweran), upacara dipimpin oleh juru sawer. Juru sawer menaburkan isi bokor tadi kepada kedua pengantin dan para ajakan sebagai selingan dari syair yang dinyanyikan olehnya sendiri. Adapun makna dari upacara nyawer tersurat dalam syair yang ditembangkan juru sawer, pada dasarnya yaitu memperlihatkan nasehat kepada kedua mempelai semoga saling mengasihani, dan mendo’akan semoga kedua mempelai mendapatkan kesejahteraan dan kebahagiaan dalam membina rumah tangganya, hidup rukun hingga diakhir hayatnya.

c) Upacara Nincak Endog : atau upacara injak telur yaitu setelah upacara nyawer kedua mempelai mendekati tangga rumah , di sana telah tersedia perlengkapan mirip sebuah ajug/lilin, seikat harupat (sagar enau) berisikan 7 batang, sebuah tunjangan atau barera (alat tenun tradisional) yang diikat kain tenun poleng, sebuah elekan, sebutir telur ayam mentah, sebuah kendi berisi air, dan kerikil pipisan, semua perlengkapan ini mempunyai perlambang. Dalam pelaksanaannya lilin dinyalakan, mempelai perempuan memperabukan ujung harupat selanjutnya dibuang, kemudian mempelai laki-laki menginjak telur, setelah itu kakinya ditaruh di atas kerikil pipisan untuk dibasuh air kendi oleh mempelai perempuan dan kendinya eksklusif dihempaskan ke tanah hingga hancur. Makna dari upacara ini yaitu menggambarkan dedikasi seorang istri kepada suaminya.

d) Upacara Buka Pintu : upacara ini dilaksanakan setelah upacara nincak endog, mempelai perempuan masuk ke dalam rumah sedangkan mempelai laki-laki menunggu di luar, hal ini menunjukan bahwa mempelai perempuan belum mau membukakan pintu sebelum mempelai laki-laki kedengaran mengucapkan sahadat. Maksud upacara ini untuk meyakinkan kebenarannya beragama Islam. Setelah membacakan sahadat pintu dibuka dan mempelai laki-laki dipersilakan masuk. Tanya jawab antara keduanya dilakukan dengan nyanyian (tembang) yang dilakukan oleh juru tembang.

e) Upacara Huap Lingkung : Kedua mempelai duduk bersanding, yang perempuan di sebelah kiri pria, di depan mempelai telah tersedia adep-adep yaitu nasi kuning dan bakakak ayam (panggang ayam yang pecahan dadanya dibelah dua). Mula-mula bakakak ayam dipegang kedua mempelai kemudian saling tarik menarik hingga menjadi dua. Siapa yang mendapatkan pecahan terbesar dialah yang akan memperoleh rejeki besar diantara keduanya. Setelah itu kedua mempelai huap lingkung , saling menyuapi. Upacara ini dimaksudkan semoga kedua mempelai harus saling memberi tanpa batas, dengan tulus dan nrimo sepenuh hati. Sehabis upacara huap lingkung kedua mempelai dipersilakan duduk di pelaminan diapit oleh kedua orang renta mempelai untuk mendapatkan ucapan selamat dari para ajakan (acara resepsi).

E. Upacara Adat Kematian
Pada garis besarnya rangkaian upacara sopan santun kematian sanggup digambarkan sebagai berikut: memandikan mayat, mengkafani mayat, menyolatkan mayat, menguburkan mayat, menyusur tanah dan tahlilan, yaitu pembacaan do’a dan zikir kepada Yang Mahakuasa swt. semoga arwah orang yang gres meninggal dunia itu diampuni segala dosanya dan diterima amal ibadahnya, juga mendo’kan semoga keluarga yang ditinggalkannya tetap tabah dan beriman dalam menghadapi cobaan. Tahlilan dilaksanakan di rumahnya, biasanya sore/malam hari pada hari pertama wafatnya (poena), tiluna (tiga harinya), tujuhna (tujuh harinya), matangpuluh (empat puluh harinya), natus (seratus hari), mendak taun (satu tahunnya), dan newu (seribu harinya).

Dari keterangan di atas sanggup diambil kesimpulan bahwa masyarakat sunda kaya akan sopan santun istiadat dan tradisi berupa upacara-upacara sopan santun yang biasa dilakukan oleh masyarakat dalam memperingati suatu momen. Upacara tersebut juga bisa sebagai rasa syukur terhadap Tuhan atas karunia dan nikmatNya. Karena kebanyakan dari mereka percaya bila tidak diadakan upacara-upacara tersebut maka akan pamali atau segala sesuatu yang dianggap tabu bila tidak dikerjakan.

Tradisi masyarakat sunda cenderung turun temurun dari nenek moyang hingga ke cicit-cicitnya. mereka mengenalkan tradisi tersebut dalam kehidupan sehari-hari di dalam masyarakat. Namun untuk masyarakat pedesaan umumnya tradisi tersebut sangat berpengaruh daripada masyarakat perkotaan. Hal ini dikarenakan masyarakat perkotaan lebih terbuka terhadap hal-hal gres yang bisa mengubah tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang turun temurun

Sistem Kepercayaan Suku Sunda

Hampir semua orang Sunda beragama Islam. Hanya sebagian kecil yang tidak beragama Islam, diantaranya orang-orang Baduy yang tinggal di Banten Tetapi juga ada yang beragama Katolik, Kristen, Hindu, Budha. Selatan. Praktek-praktek sinkretisme dan gaib masih dilakukan. Pada dasarnya seluruh kehidupan orang Sunda ditujukan untuk memelihara keseimbangan alam semesta.Keseimbangan magis dipertahankan dengan upacara-upacara adat, sedangkan keseimbangan sosial dipertahankan dengan kegiatan saling memberi (gotong royong). Hal yang menarik dalam kepercayaan Sunda, ialah lakon pantun Lutung Kasarung, salah satu tokoh budaya mereka, yang percaya adanya Yang Mahakuasa yang Tunggal (Guriang Tunggal) yang menitiskan sebagian  kecil diriNya ke dalam dunia untuk memelihara kehidupan insan (titisan Yang Mahakuasa ini disebut Dewata).  Ini mungkin sanggup menjadi jembatan untuk mengkomunikasikan Kabar Baik kepada mereka.

Sistem Kekerabatan Suku Sunda

Sistem relasi masyarakat Sunda ialah bilateral (garis keturunan ayah ataupun ibu). Sistem relasi dan perkawinan dilakukan secara Islam. Bentuk keluarga yang populer ialah keluarga batih, yakni suami, istri, dan anak-anak.

Di Sunda mengenal tujuh generasi ke atas dan ke bawah sebagai berikut.

Tujuh generasi ke atas: kolot, embah, buyut, bao, jangga wareng, udeg-udeg, dan gantung siwur.
Tujuh generasi ke bawah: anak, incu, buyut, bao, jangga wareng, udeg-udeg, dan gantung siwur.
Bahasa Suku Sunda
Bahasa yang digunakan oleh suku ini ialah bahasa Sunda. Bahasa Sunda ialah bahasa yang diciptakan dan digunakan sebagai alat komunikasi oleh Suku Sunda, dan sebagai alat pengembang serta pendukung kebudayaan Sunda itu sendiri. Selain itu bahasa Sunda yaitu pecahan dari budaya yang memberi huruf yang khas sebagai identitas Suku Sunda yang merupakan salah satu Suku dari beberapa Suku yang ada di Indonesia.

Makanan Khas Suku Sunda

Sunda adalah  salah satu pecahan dari suku – suku yang ada di Indonesia. Mayoritas kawasan sunda di kawasan banten dan jawa barat, sebagai mana kawasan – kawasan lain kawasan sunda juga mempunyai kuliner khas tersendiri.

1. Balok menes

Mungkin bagi anda yang belum tahu, sekilas seusdah mendengar nama balok terbayang kayu balok yang keras. Tapi balok di sini berbeda, lantaran nama balok di sini ialah kuliner khas dari sunda.

Balok menes yaitu makana khas dari kawasan sunda yang ada di kawasan menes pandeglang banten. Balok menes sendiri terbuat dari singkong dan parutan kelapa yang sudah di jadikan serundeng. Kue balok ini ada dua macam, yaitu balok cioda dan balok menes.

2. Peuyeum Bandung

Peuyeum dalam bahasa Indonesia di sebut tape, peuyeum Bandung yaitu tape khas Bandung yang bisa menggoyang pengecap anda bila anda mencicipinya. Peuyeum atau tape yaitu kuliner khas yang terbuat dari singkong yang di kukus kemudian di dinginkan sehabis itu di taburi ragi khusus dan di peuyeum (di imbuh) hingga berpermentasi menjadi tape.

3. Nasi Tutug Oncom

Nasi tutug oncom yaitu nasi khas dari kawasan sunda, tepatnya di kawasan tasikmalaya. Nasi tutug oncom yaitu nasi yangdi campur oncom yag di goring atau di bakar. Seperti namanya preoses pencampuran nasi dengan cara di tumbuk hingga di kenal dengan nama nasi tutug.

4. Sorabi Hijau

Sorabi hijau yaitu kuliner khas sunda yang ada di Rengasdengklok Karawang. Serabi hijau ini berbeda dengan serabi – serabi lainnya, materi pembuatannya juga sedikit berbeda yang di tambahi daun suji. serabi hijau lebih nikmat bila ditemani secangkir kopi hangat.

Demikian  Keunikan Sejarah Adat Istiadat Budaya Suku Sunda Daerah Jawa Barat


Sumber https://www.senibudayawisata.com/